Skip to main content

Contoh Soal Ulangan Semester 2 (Kelas IX - Bahasa Indonesia)

Soal UTS atau PTS Bahasa Indonesia Kelas 9 Semester 2 Kurikulum Merdeka:


1. Perhatikan unsur karya tulis berikut!

1. Latar belakang

2. Pendahuluan

3. Kesimpulan

4. Pembahasan

5. Penutup

Sistematika yang tepat dari unsur-unsur karya tulis di atas adalah ...

a. 2, 3, 4, 5, 1

b. 3, 4, 5, 1, 2

c. 2, 1, 4, 5, 1

d. 1, 3, 5, 4, 2


2. Struktur dari pidato persuasif adalah?

a. Salam penghormatan – isi – permohonan maaf

b. Pembukaan – isi – penutup

c. Pembukaan – isi – ucapan terima kasih

d. Salam hormat – isi – ucapan terima kasih


3. Persuasif adalah ?

a. Ajakan

b. Larangan

c. Perintah

d. Tiruan



4. Perhatikan data daftar pustaka berikut!

1. Judul buku

2. Penerbit

3. Pengarang

4. Kota terbit

5. Tahun terbit

Penulisan daftar pustaka yang tepat yaitu dengan urutan nomor ...

a. 3, 1, 2, 4, 5

b. 1, 2, 5, 4, 2

c. 1, 3, 4, 2, 5

d. 3, 5, 1, 4, 2


5. Hanyalah dari balasan ngeri

Dimurkai Tuhan waidul-kahri

Mendapat sengsara di luar negeri

………………………………

Baris yang tepat untuk melengkapi syair tersebut adalah….

a. Kepada suamimu berbuat bakti

b. Duduklah dia mendiamkan diri

c. Ditonton oleh seorang diri

d. Celakalah bertambah sehari-hari


6. Cerita pendek yang terhimpu dalam naskah tersebut berjmlah enam buah dan merupakan karyanya yang ditulis pada 1957-1963. Tanda baca (-) yang menandai tahun pada kalimat tersebut sama artinya dengan….

a. Jarak tempuh

b. Sampai ke

c. Dilanjutkan

d. Sampai dengan


7. Kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal nomor 7-9! 

………………………

“Harga di pasar mungki bias lebih, Fa! Tetapi nenek sudah tidak kuat menurunkan buah itu dan membawanya ke pasar. Masih ada orang yang mau datang membeli disini saja sudah untung” kata nenek lagi. Nadanya pasrah dan menerima apa adanya saja.

“Hm…kalau boleh, kami akan menjualnya, Nek! Pokoknya, paling sedikit nenek dapat tiga ribu rupiah. Boleh, Nek?” Tanya Difa.

Nek Zahwa tampak menimbang-nimbang. “Boleh saja. Asal nanti kalian tidakdimarahi orang tua kalian.

……………………….

Nilai didik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah….

a. Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya

b. Kita harus menolong orang yang kesusahan

c. Nenek yang lemah harus kita manfaatkan

d. Kita harus pasrah menerima nasib


8. Watak Difa dalam kutipan cerpen di atas adalah ….

a. Suka berbohong

b. Pandai membujuk

c. Suka menipu

d. Suka menolong


9. Tema yang diangkat penulis dalam kutipan cerpen di atas adalah ….

a. Memanfaatkan setiap kesempatan

b. Berbakti pada orang tua

c. Bekerja sama

d. Tolong menolong


10 Cerita atau narasi yang fiktif serta relatif pendek, disebut….

a. Novel

b. Prosa

c. Pantun

d. Cerpen

Comments

Popular posts from this blog

Keris: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Kekuasaan, Seni, dan Spiritualitas Jawa

Keris, senjata tajam berbilah tunggal khas Nusantara, khususnya Jawa, jauh melampaui fungsi semata sebagai alat perang. Ia merupakan representasi dari perpaduan seni, spiritualitas, dan kekuasaan yang telah terpatri dalam sejarah dan budaya Jawa selama berabad-abad. Lebih dari sekadar benda mati, keris diyakini memiliki kekuatan magis dan spiritual yang mampu mempengaruhi pemiliknya. Artikel ini akan mengupluk tuntas berbagai aspek keris, mulai dari sejarah dan asal-usulnya, proses pembuatan dan jenis-jenisnya, hingga makna filosofis dan perannya dalam masyarakat Jawa.   Sejarah dan Asal-Usul Keris: Jejak Misterius di Nusantara Asal-usul keris masih menjadi misteri yang menarik perhatian para ahli sejarah dan arkeologi. Tidak ada catatan pasti kapan dan di mana keris pertama kali dibuat. Namun, berbagai teori dan bukti arkeologis menunjukkan bahwa keris telah ada di Nusantara sejak abad ke-14 Masehi, bahkan mungkin lebih awal lagi. Beberapa teori mengaitkan asal-usul...

Kejawen: Kearifan Lokal Jawa, Perpaduan Animisme, Dinamisme, dan Islam

Kejawen merupakan sistem kepercayaan yang berkembang di masyarakat Jawa, merupakan perpaduan unik antara unsur-unsur animisme, dinamisme, dan ajaran Islam. Ia bukan agama dalam arti formal, tetapi lebih tepat disebut sebagai sistem kepercayaan atau pandangan hidup yang telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Kejawen tidak memiliki kitab suci atau ajaran yang baku, melainkan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan, ritual, dan praktik-praktik keagamaan yang beragam. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai aspek Kejawen, mulai dari sejarah dan asal-usulnya, ajaran dan praktik-praktiknya, hingga perannya dalam kehidupan masyarakat Jawa.   Sejarah dan Asal-Usul Kejawen: Perpaduan Budaya yang Harmonis Asal-usul Kejawen tidak dapat ditelusuri secara pasti. Ia merupakan hasil akulturasi budaya yang panjang dan kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: - Animisme dan Dinamisme: Kepercayaan kepada roh nenek moyang dan k...

Tingkeban: Tradisi Jawa yang Sarat Makna, Merayakan Kehamilan dan Mendoakan Keselamatan

Tingkeban, sebuah tradisi Jawa yang unik dan sarat makna, merupakan upacara adat yang dilakukan untuk merayakan kehamilan dan mendoakan keselamatan ibu dan janin. Upacara ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan tujuh bulan, tetapi waktunya bisa bervariasi tergantung kebiasaan setempat. Lebih dari sekadar ritual, tingkeban merupakan manifestasi dari kearifan lokal Jawa yang kaya akan simbolisme dan nilai-nilai luhur. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai aspek budaya tingkeban, mulai dari sejarah dan asal-usulnya, prosesi dan ritual yang dilakukan, hingga makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.   Sejarah dan Asal-Usul Tingkeban: Jejak Tradisi di Tanah Jawa Asal-usul tradisi tingkeban masih menjadi perdebatan para ahli, namun umumnya diyakini sebagai perpaduan antara kepercayaan animisme, dinamisme, dan ajaran agama Islam yang telah berakar kuat dalam budaya Jawa. Kata "tingkeban" sendiri berasal dari kata "tingkep," yang berarti membung...